Ada Allah diantara Kita

Ada yang selalu melihat walau Dia tak terlihat. Melihat yang nampak pun yang tersembunyi. Tak ada rahasia yang mampu dirahasiakan darinya. Tidak ada yang tidak pernah Ia ketahui. Lebih dari itu, Dia lah pengemudi hidupku pun hidupmu. Sadarkah kita akan keberadaanNya?

5e734-original.jpgAku tergugah akan setiap aksara yang digubah untuk mereka para pemuja. Masih tetap sebaik-baik aksara adalah tulisan arab dalam 30 juz. Indah. Carilah salah sampai kau lelah. Tak kan kau temukan kecuali rasa payah. Karna isinya pasti kebenaran. Apa ada kata Allah yang pernah salah. Apa ada skenario Allah yang tak indah.

Telah ada ketetapan antara aku dan dirimu. Entah menyatu atau berjarak yakinkan selalu hati kita. Mau sekeras apapun kesabaran dari kita agar bisa bersatu, sekuat apa pun usaha kita agar bersama, sebanyak apa pun rancangan rencana masa depan kita, jika Allah sudah berkata tidak, maka perpisahan tak lagi terelak. Begitupun sebaliknya, mau sehebat apapun rencana kita menjauh selama Allah berkata iya, maka aku dan kamu satu muara.

Kau Penuh Inspirasi

Aku takjub pada taatmu. Pada wajahmu yang memancarkan cahaya ketenangan. Pada perilakumu yang hangat dengan sekitar. Pada senyum eleganmu yang mampu membentuk sebuah keyakinan. Kau selalu mampu menjadi apa yang kau mau. Namun inikah ketakjuban yang sewajarnya bila disertai rasa harap bisa bersama. Cinta. Ah lagi-lagi aku sering membicarakannya. Karna kau memaksa dalam diammu. Kau magnet inspirasiku. Tapi aku pun sadar, agar tetap menjagamu justru aku harus mencintaimu dengan bamasik. Pun mencintaimu adalah hak banyak orang. Maka ku putuskan cintaku sebatas sayang. Mengekspresikan cinta dalam doa-doa malam. Biarkan namamu tersimpan tanpa terlihat. Karna sebatas ini aku berani mencintaimu. Kepadamu aku tunduk pada jalan cinta yang tak ragu.

Kau adalah pembawa pesan untukku dari Allah agar tak henti mendandani hati. Diam-diam kau mengingatkanku untuk selalu mengingatNya. Inikah sewajarnya cinta. Dan aku menikmatinya. Ikhtiar aku menujumu. Jika sejatinya memang kau pelindung ketidakmampuanku, penyeimbang kekuranganku, janji masa depan yang namanya dilukiskan untukku, yakinku satu, cinta itu akan bertindak dengan ijinNya.

Rindu yang Terlambat

Apa ada manusia yang hidup hingga kini tanpa melewati rasa sakit sebelumnya? Yha aku yaki1496547608553n. Dari 7 miliyar manusia di bumi ini pernah mengalami sakit dan aku bukan satu-satunya. Entah sakit karna dikecewakan, ditinggalkan, terpaksa melepaskan atau bahkan hanya sekedar sakit flu. Semua manusia pun punya jatah sakitnya masing-masing.

Termasuk kesakitan bila berteman dengan rindu. Rindulah yang membuat lahirnya keinginan bertemu. Membuat ingin itu kian dewasa. Jika rindu suatu ketetapan kenapa ia menetap lama sekali di sini. Rindu tanpa jeda. Membuat sedihku tanpa air mata. Teringat senyummu yang tulus untukku. Benar-benar senyum yang hangat. Hingga aku sadar aku telah terlalu dalam.

Ingin ku ketuk kembali hatimu yang lalu. Tapi terlambat langkahku menujumu. Kau tak lagi tinggal di tempat yang lalu. Kau kini telah jauh dalam jatuh. Tanpa sadar semakin kau jatuh dalam cinta penuh ketidakbaikan. Kau terlalu baik bila jatuh pada orang yang salah. Apa yang kau sisakan untukku pun agamamu. Kau kini bukan lagi yang aku cita-citakan. Tak ada lagi kau dalam bingkai ketaatan. Bila pada akhirnya kau memang bukan diperuntukkan untukku, ijinkanku mengucap terimakasih. Terimakasih telah hadir dan menyadarkanku waktuku untuk memperbaiki diri masih panjang. Sembari menunggu hadiah besar itu datang.

 

 

Cinta Sejati Selalu Sederhana


Wajar bukan bila aku sebagai wanita tak lepas dari kata cinta. Bahkan anak-anak kecil saja sudah banyak yang mengenalnya. Sepertinya aku kalah mahir dengan mereka. Atau memang mereka yang terlampau dewasa padahal belum saatnya.

Masih tentang cinta. Cinta tak bisa dikerjakan seorang diri bukan? Karna tentu kita butuh orang lain untuk melakukannya. Tapi orang lain yang seperti apakah. Aku heran betapa banyak orang yang dengan mudahnya menebar kata-kata manis yang dibingkai puitis. Bahkan mudah sekali mengatakan suka. Murah sekali bicaranya. Bukan orang lain seperti ini yang bisa diajak membangun cinta. Karna cinta sejati tak butuh yang muluk-muluk. Ia tak tampil dengan rumit. Ia begitu sederhana namun tampil mempesona. Cinta sejati akan membuat lakonnya mencinta dengan tidak keterlaluan. Karna cinta sejati selalu sadar bahwa cinta itu datang dari Allah yang ditujukan pada seseorang yang ditetapkan. Apa gunanya cinta bila hanya bisa membuat jatuh. Ouh sungguh kasihan. Cinta sejati itu adalah membangun hingga terbentuk menara setia yang kuat dengan benteng komitmen yang kokoh dan pondasi kepercayaan yang kuat. Bilamana hilang salah satu dari ketiganya jangan harap itu cinta sejati.

Cinta sejati membutuhkan bahan bakar setia. Tanpanya cinta mogok. Berhenti. Dan hanya akan menjadi cerita usai di masa lalu. Cinta sejati membutuhkan roda komitmen. Tanpanya cinta hanya diam. Tak bisa berjalan. Tak akan terjadi hari-hari ke depan. Cinta sejati membutuhkan tali komitmen. Tanpanya cinta adalah perpisahan. Karna putus. Tidak mengikat.

Yang sejati pada intinya tidak akan pernah mati. Ia hidup. Abadi. Pun cinta sejati tak mengenal arti berpacaran. Karna cinta sejati tak mengenal anniversary bulanan. Apapun kesalahan yang pernah kau lakukan, langkahmu yang pernah keliru, keputusan yang telah kau sesali, oleh cinta sejati selalu dimaklumi. Karna baginya itu semua adalah sebagai tambahan koleksi taman pembelajaran. Dengan lembut justru ia akan mengatakan tinggalkanlah ia di tempat terbaiknya. Kenangan.

 

Yang Sedang Kasihan

Hei… pikiran orang yang sendirian itu memang menakutkan. Ia liar. Berkeliaran tanpa ada batasan. Maka jangan salahkan aku ketika sendiri aku 1496293030175[1]sering membawamu dalam pikiranku. Lengkungan tipis di sudut bibirmu menjadi bayangan favoritku. Terlebih berkhayal bahwa itu sengaja diperuntukkan untukku. Ah menyenangkan bukan bisa berkhayal.  Toh di dalamnya aku pun tak akan pernah menerima penolakan.

Ritual berkhayal ku setidaknya selalu mampu membuat mood menjadi lebih baik. Segala yang tersirat mampu ku ungkap secara tersurat. Ringan sekali mengucap segala kata-kata haram saat berkhayal. Dan aku suka.  Aku bisa bertanya banyak hal dengan jawaban yang aku ciptakan. Tak perlu lagi ku kenal kata malu dalam dunia khayalku. Yang kutemui ketenangan dan kesenangan. Toh dalam hidup ini kita pasti membutuhkan ruang sendiri bukan?

Kau tau? Tak dapat ku pungkiri mencintaimu dalam diam adalah sebuah kebiasaan. Sangat berbeda dengan caraku menyikapimu. Karna ku sadar betul kau bukan hakku. Ada aturan main dari Allah tentang bagaimana caraku menyikapimu. Sedang dari hati yang paling dalam jujur saja, aku bahkan iri pada mereka yang mampu mengungkapkan. Karna sebenarnya aku pun ingin. Ah tapi maluku setidaknya membuatku berwibawa dalam hal menjaga cinta. Aku tak bakat menodai cinta, dan sebut saja itu sebuah kelebihan.

Ganas memang jika berbicara tentang cinta. Apalagi cinta bisa membuat orang tuli dari nasehat buta dari fakta dan parahnya mati dalam rasa. Jika kau bukan ahli cinta maka jangan bermain-main dengannya. Karna cinta itu butuh ilmu supaya tahu bagaimana memposisikannya tanpa ada pihak yang terluka.

Kau tau? Tentang rasa yang menyeruak hebat tapi pada masa yang tak tepat adalah ujian. Menyakitkan. Menyedihkan. Terlebih bila menjalaninya seorang diri. Benar-benar kasihan. Dan aku lebih memilih seperti ini. Jadi boleh kan aku menyebut diriku kasihan (?). Dan aku dituntut pula untuk tidak bosan. Dimana rasa kepedulianmu padaku? Ingin benar aku memintanya, tapi bagaimana cara meminta tanpa mengungkapkan? Kini khayalku kembali bermain. Andai namaku adalah Aamiin yang kau ucap setiap waktu sebagai penutup doamu tentu sangat menyenangkan bukan? ah tapi mana mungkin aku perempuan dengan nama kelaki-lakian seperti itu.